Thomas Sukarianto Harahap
Stultita Dijadikan Populeritas
lanuhanbaturaya.com- Pernahkah Anda Membuka Beranda Media Sosial Dan Merasa Bingung? Di Satu Sisi, Kita Diajarkan Bahwa Pendidikan, Literasi, Dan Kebijaksanaan (Sapientia) Adalah Puncak Dari Kualitas Manusia. Namun, Realitas Digital Menyuguhkan Data Yang Berbeda. Konten Yang Paling Cepat Viral, Paling Banyak Dibicarakan, Dan Paling Menghasilkan Uang Justru Adalah Konten Yang Mempertontonkan Kedangkalan Berpikir.
Dalam Bahasa Latin, Fenomena Ini Disebut “Stultitia” Sebuah Istilah Untuk Kebodohan, Ketololan, Atau Kekonyolan. Jika Erasmus Pernah Menulis Satir “The Praise Of Folly” (Pujian Bagi Kebodohan) Di Abad Ke-16, Tampaknya Di Abad Ke-21 Ini Kita Tidak Lagi Menyatirnya, Melainkan Benar-Benar Merayakannya.
Kapitalisasi Kebodohan, Kita Sedang Berada Di Fase Anomali Budaya. Dulu, Orang Merasa Malu Jika Ketidaktahuannya Terekspos Di Muka Umum. Hari Ini, Ketidaktahuan Dan Sensasi Murahan Justru Menjadi Komoditas. Stultitia Telah Bertransformasi Menjadi Mata Uang Baru Bernama “Popularitas”.
Lakukan Hal Konyol, Langgar Norma Kepatutan, Atau Bicaralah Tanpa Data, Maka Algoritma Akan Memberimu Panggung. Mengapa? Karena Algoritma Media Sosial Tidak Dirancang Untuk Memuliakan Kebenaran. Ia Dirancang Untuk Menahan Atensi. Dan Sayangnya, Tidak Ada Yang Lebih Efektif Menahan Atensi Manusia Selain Tontonan Yang Memicu Emosi Instan Entah Itu Tawa, Jijik, Atau Amarah.
Degradasi Standar “Tokoh” Bahaya Terbesar Dari Fenomena Ini Adalah Rusaknya Hierarki Keteladanan Bagi Generasi Muda. Ketika Seorang Pelajar Atau Mahasiswa Melihat Bahwa Seseorang Bisa Meraup Jutaan Rupiah Dan Diundang Ke Stasiun Tv Hanya Karena Berjoget Konyol Atau Membuat Konten Prank Tidak Bermoral, Etos Kerja Keras Menjadi Runtuh.
Narasi Yang Terbentuk Di Bawah Sadar Publik Adalah “Untuk Apa Belajar Keras, Berorganisasi, Dan Menumpuk Prestasi Jika Menjadi ‘Bodoh’ Lebih Cepat Membuatmu Kaya?” Ini Adalah Lonceng Kematian Bagi Intelektualitas. Kita Mulai Menormalisasi Mediokritas. Kita Memberi Karpet Merah Pada Mereka Yang Nir Prestasi, Sementara Mereka Yang Berkarya Dalam Sunyi Semakin Tenggelam Oleh Ingar-Bingar Notifikasi.
Kita Adalah Pelakunya Namun, Menyalahkan Kreator Konten Atau Platform Semata Adalah Tindakan _Naif Supply (Penawaran) Hanya Ada Karena Adanya Demand (Permintaan). Siapa Yang Menonton? Kita. Siapa Yang Membagikan Tautan Sambil Menghujat (Hate Sharing)? Kita. Siapa Yang Berkomentar Sehingga Engagement Mereka Naik? Kita Juga. Tanpa Sadar, Masyarakat Kita Mengidap Sindrom Di Mana Kita Membenci Kebodohan, Namun Tidak Bisa Berhenti Menontonnya.
Kita Menjadikan Para Pelaku Stultitia Ini Sebagai Hiburan Di Tengah Penatnya Hidup, Tanpa Menyadari Bahwa Tawa Kita Adalah Bahan Bakar Yang Memperpanjang Umur Kebodohan Tersebut.Hentikan Panggungnya
Sudah Saatnya Kita Melakukan “Diet Digital”.
Popularitas Adalah Bentuk Demokrasi Paling Murni Setiap Like Dan View Adalah Suara Yang Kita Berikan. Jika Kita Ingin Masa Depan Yang Lebih Waras, Kita Harus Berhenti Memilih Stultitia
Sebagai Pemimpin Di Panggung Hiburan Kita.Berhenti Membuat Orang Bodoh Menjadi Terkenal. Mari Kembalikan Popularitas Sebagai “Hadiah” Atas Sebuah Kualitas, Bukan Kompensasi Atas Hilangnya Rasa Malu.
Penulis
Thomas Sukarianto Harahap
