Thomas Sukarianto Harahap Fakultas Sains dan Tekhnologi, jurusan Sistem Informasi, semester VII, Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang.(labuhanbaturaya.com/ist).
labuhanbaturaya.com- Keamanan infrastruktur Kampus III Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, provinsi Sumatera Barat, di Sungai Bangek kembali menjadi sorotan tajam. Kegiatan perkuliahan yang seharusnya berjalan tatap muka, kini terpaksa dialihkan kembali ke sistem daring (online).
Keputusan ini diambil bukan sekadar karena faktor cuaca ekstrem, melainkan akibat munculnya sejumlah titik longsor yang dinilai membahayakan keselamatan civitas akademika.
Kondisi ini memicu pertanyaan besar terkait kelayakan bangunan yang berdiri di kontur perbukitan tersebut.
Thomas, mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang, mengungkapkan keresahannya. Menurutnya, kebijakan kuliah online ini menjadi bukti nyata bahwa ada masalah serius pada stabilitas tanah di area kampus.
”Saat ini perkuliahan sedang berlangsung online. Alasannya jelas, banyak titik longsor di daerah universitas. Ini bukan lagi soal hujan, tapi soal kelayakan bangunan di batas bukit yang kini mengancam akses dan keselamatan kami,” kata Thomas Sukarianto Harahap Mahasiswa UIN Bonjol Padang Fakultas Sains dan Tekhnologi jurusan sistem informasi semester VII Rabu, (3/12/2025) kepada Wartawan melalui WhatsApp.
Klaim “Aman” Dipertanyakan
Kondisi faktual di lapangan hari ini seolah berbanding terbalik dengan jaminan yang pernah dilontarkan pihak rektorat saat pembangunan gedung berlangsung.
Namun, realitas longsor yang kini memaksa mahasiswa kembali belajar dari rumah menjadi antitesis dari klaim “pematangan infrastruktur” dan “lolos uji Amdal” tersebut.
Mahasiswa kini menuntut transparansi dan evaluasi ulang terhadap ketahanan bangunan di batas bukit sebelum korban jiwa jatuh.
Apakah “aman” di atas kertas sama dengan “aman” di lapangan? Alam Sungai Bangek tampaknya sedang memberikan jawabannya sendiri.(BSH).

