Kawasan dilanda banjir di Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara./Foto Dok BNPB
LABUHANBATURAYA.COM – Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, hingga Senin, 22 November 2021, masih dilanda banjir. Ketinggian permukaan air di sejumlah wilayah Kota Tebing Tinggi terdampak mencapai satu meter.
Terdata banjir terjadi di lima kecamatan di Kota Tebing Tinggi. Wilayah terdampak, Kecamatan Padang Hilir, Kecamatan Rambutan, Kecamatan Tebing Tinggi Kota, Kecamatan Bajenis dan Kecamatan Padang Hulu.
“Perkembangan terakhir banjir di Kota Tebing Tinggi, ketinggian muka air berkisar 20 hingga 100 sentimeter,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Senin 22 November 2021.
Perkembangan terakhir banjir di Kota Tebing Tinggi, kata Muhari, sebanyak 3.686 KK terdampak di 13 kelurahan. Wilayah yang terdampak banjir di antaranya Kelurahan Tebing Tinggi Lama, Badak Bejuang, Mandailing dan Pasar Baru di Kecamatan Tebing Tinggi Kota.
Kelurahan Brohol dan Bandar Sakti di Kecamatan Bajenis, Kelurahan Satria dan Tambangan Hulu di Kecamatan Padang Hilir, Kelurahan Pabatu, Tualang dan Persiakan di Kecamatan Padang Hulu, serta Kelurahan Sri Padang di Kecamatan Rambutan.
Prakiraan cuaca di Kota Tebing Tinggi, kata Muhari, masih berpotensi terjadi hujan hari ini hingga Selasa 23 November 2021, dengan intensitas ringan hingga sedang.
“Potensi banjir susulan perlu diwaspadai oleh pemerintah daerah dan masyarakat setempat,” kata Muhari.
Di Kabupaten Batu Bara dilaporkan banjir menggenangi 45 hektar area persawahan di Desa Sei Buah Keras, Kecamatan Medang Deras, sejak Senin dinihari, 22 November 2021.
Muhari menyebutkan, laporan yang diterima Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB, selain 45 hektar area persawahan, banjir juga menggenangi 60 hektar area perkebunan sawit dan 10 unit rumah warga terdampak.
“Tidak ada laporan korban jiwa akibat peristiwa ini. BPBD Kabupaten Batu Bara juga melaporkan kondisi genangan di Desa Sei Buah Keras belum menunjukkan penurunan (air),” ujar Muhari.
Dikatakannya, banjir tersebut dipengaruhi curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah kecamatan serta debit air dari kawasan hulu atau wilayah Kabupaten Simalungun.
“BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat selalu waspada dan siap terhadap potensi bahaya hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor maupun angin kencang, khususnya di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga hari ini,” pungkas Muhari.***
Reporter: LRC02
