Thomas Sukarianto Harahap.
Menghidupkan Budaya Sekolah dari Bawah:
Cerita Lahirnya Laulana Man siwana.
Sekolah kerap kali digambarkan sebagai ruang tempat aturan ditegakkan dan nilai-nilai ideal diajarkan. Namun, apa jadinya ketika aturan yang seharusnya menjadi pedoman bersama justru dinodai dalam kontestasi politik siswa, sementara ruang formal seakan memilih berkompromi? Di titik itulah, nalar kritis dan integritas siswa diuji: memilih diam dan tunduk pada keadaan, atau bersuara dan menciptakan ruang perlawanannya sendiri.
Tahun 2021 di MAN Labuhanbatu menjadi saksi momentum tersebut. Berangkat dari kegelisahan terhadap dinamika pemilihan ketua OSIS yang diwarnai pelanggaran aturan tanpa konsekuensi tegas, kami memutuskan untuk tidak sekadar menjadi penonton pasif. Bersama teman-teman, lahirlah Laulana Man siwana sebuah organisasi independen yang lahir sebagai bentuk perlawanan moral sekaligus wadah alternatif untuk mengawal budaya, integritas, dan kegiatan siswa di madrasah.
Perlawanan yang Mengambil Jalur Konstruktif
Lahirnya Laulana Man siwana bukanlah sekadar letupan amarah tanpa arah. Kami menyadari bahwa perlawanan terbaik terhadap ketidakadilan struktural di lingkungan sekolah bukanlah perusakan, melainkan pembangunan alternatif yang lebih bermakna. Ketika panggung formal tercederai oleh pelanggaran aturan main, kami memilih membangun panggung baru.
Melalui wadah ini, kami membedah dinamika sekolah bukan dengan kacamata birokrasi yang kaku, melainkan melalui kejujuran pandangan siswa. Kami mendiskusikan apa yang seharusnya menjadi nilai-nilai sejati seorang pemimpin madrasah, mendokumentasikan dinamika keseharian siswa, dan merawat budaya kritis yang kerap ditekan atas nama ketertiban semu.
*Budaya Sekolah: Antara Kepatuhan Buta dan Suara Kritis*
Di lingkungan madrasah, sering kali ada anggapan keliru bahwa “siswa yang baik” adalah mereka yang patuh tanpa banyak tanya. Padahal, esensi pendidikan karakter dan demokrasi justru terletak pada keberanian membela prinsip kebenaran dan keadilan.
Ketika aturan pencalonan dilanggar begitu saja, hal itu bukan hanya mencederai sebuah proses pemilihan, melainkan merusak budaya kejujuran yang ditanamkan di sekolah. Laulana Mansiwana hadir untuk mengingatkan bahwa budaya madrasah yang sehat harus berdiri di atas fondasi integritas, bukan kompromi politik praktis berskala mikro.
Menolak Lupa, Merawat Daya Kritis
Membangun organisasi dari bawah di tengah situasi penuh ketegangan politik sekolah tentu bukan jalan yang mulus. Ada keraguan, resistensi, dan tantangan untuk mempertahankan eksistensi. Namun, pengalaman mendirikan Laulana Mansiwana pada tahun 2021 membuktikan satu hal berharga: ketika siswa bersatu atas dasar keresahan yang tulus, mereka memiliki daya untuk mengubah peta kesadaran di lingkungannya.
Organisasi ini bukan hanya sekadar catatan sejarah tentang sebuah gerakan siswa, melainkan pengingat abadi bahwa perubahan dan pembaruan budaya sekolah sering kali tidak datang dari atas meja kebijakan, melainkan meletup dari bawah dari keberanian siswa yang menolak tunduk pada pelanggaran aturan.
Penulis,
Thomas Sukarianto Harahap
