LABUHANBATURAYA.COM | Oleh: Azwar, SE. (Ketua Dewan Pengawas DPP Yayasan Ika Labaya Indonesia)
Rentang sejarah dari 17 Oktober 1945 hingga 17 Oktober 2026 mencatatkan perjalanan panjang dan matang Kabupaten Labuhanbatu. Sebagai ibu kandung yang pernah memayungi seluruh wilayah eks-Kewedanaan Labuhanbatu Raya—sebelum memekarkan Kabupaten Labuhanbatu Utara dan Kabupaten Labuhanbatu Selatan—kini Labuhanbatu genap melangkah pada usianya yang ke-81 tahun.
Sebagai daerah yang memegang teguh warisan leluhur melalui filosofi “Ika Bina En Pabolo” yang bermakna seia sekata membina dan memperbaiki, puncak peringatan hari jadi ini hendaknya tidak berhenti sekadar sebagai selebrasi seremonial tahunan, deretan baliho megah, atau rentetan narasi retoris semata. Tema yang diusung Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu tahun ini, yaitu “Berkolaborasi untuk Mewujudkan Labuhanbatu Cerdas Bersinar dalam Membangun Desa Menata Kota”, menuntut pembuktian yang terukur dan berdampak sistemik.
Momentum 81 tahun ini adalah saat yang tepat untuk melakukan evaluasi kritis dan objektif mengenai sejauh mana spirit “Cerdas Bersinar” benar-benar telah meresap serta meretas ketimpangan yang dirasakan oleh warga di sudut-sudut desa hingga kawasan pesisir.
Yayasan Ika Labaya Indonesia memandang bahwa arah pembangunan daerah saat ini masih dihadapkan pada beberapa tantangan fundamental yang membutuhkan keberanian kebijakan serta koreksi terarah dari pemerintah daerah. Slogan “Membangun Desa Menata Kota” tidak boleh terjebak dalam bias spasial yang hanya menitikberatkan estetika pusat perkotaan Rantauprapat semata.
Pembangunan sejati tercermin dari keadilan aksesibilitas, di mana perbaikan infrastruktur jalan dan jembatan di desa-desa hinterland, peningkatan kualitas fasilitas kesehatan primer, serta pemerataan mutu pendidikan sekolah dasar dan menengah di tingkat kecamatan harus menjadi prioritas penganggaran yang berpihak pada rakyat bawah.
Di samping itu, laju pembangunan fisik dan perputaran ekonomi akan kehilangan maknanya apabila sumber daya manusia—terutama generasi muda—tergerus oleh penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. Mengingat Labuhanbatu berada pada zona rentan ancaman narkoba, penanganan krisis ini membutuhkan tidak sekadar tindakan represif penegak hukum, tetapi juga aksi pencegahan terpadu dari lingkup keluarga, sekolah, hingga penguatan kegiatan sosial-kemasyarakatan. Dalam konteks ini, Pemerintah Kabupaten perlu memposisikan pemuda bukan sekadar penonton pembangunan, melainkan sebagai aktor utama.
Penyediaan fasilitas olahraga yang representatif dan berkelanjutan, ruang terbuka publik untuk ekspresi seni dan teknologi, serta pembinaan bakat pemuda dari pelosok desa hingga kabupaten adalah investasi jangka panjang paling efektif untuk membangun mentalitas kedisiplinan, daya saing, sekaligus menekan angka kriminalitas remaja.
Kemajuan dan kemandirian Labuhanbatu bukan semata-mata beban di pundak jajaran eksekutif dan legislatif, melainkan panggilan moral seluruh elemen bangsa, termasuk komunitas perantau yang terhimpun dalam Yayasan Ika Labaya Indonesia.
Mengusung doktrin perjuangan “Berserak Kita Satukan”, warga perantauan Labuhanbatu Raya yang tersebar di pelbagai pelosok Pulau Sumatera dan Jawa terus berkomitmen memberikan kontribusi nyata bagi tanah kelahiran. Menyongsong momentum Hari Jadi ke-81 ini, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ika Labaya Indonesia bersama Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Ika Labaya Labuhanbatu merancang aksi sosial kemanusiaan bertajuk Bakti Sosial Santunan 150 Anak Yatim Lintas Agama yang dijadwalkan berlangsung pada Ahad, 8 November 2026 di Kota Rantauprapat.
Program ini bukan sekadar agenda insidental, melainkan kelanjutan konsisten dari gerakan kebaikan yang telah dirintis sejak berdirinya Ika Labaya pada tahun 2023. Sebagai bagian dari visi jangka panjang kemanusiaan di kawasan tanah asal, Ika Labaya Indonesia juga mengagendakan perluasan program bakti sosial serupa ke wilayah Kabupaten Labuhanbatu Utara dan Kabupaten Labuhanbatu Selatan pada periode mendatang.
Untuk menghadirkan dampak emosional dan spiritual yang mendalam, DPP Ika Labaya Indonesia secara resmi mengundang Bupati Labuhanbatu, Ibu Maya Hasmita, beserta jajaran pemerintah daerah untuk hadir langsung dan menyerahkan santunan secara tatap muka kepada 150 anak yatim di Rantauprapat.
Kehadiran sosok pimpinan daerah pada agenda ini mengandung nilai simbolis dan substantif yang sangat tinggi, menegaskan hadirnya pemerintah dalam memberikan rasa perlindungan, pengayoman, serta kasih sayang kepada anak-anak yatim tanpa membedakan latar belakang suku maupun agama.
Menatap masa depan Labuhanbatu yang berkelanjutan, Yayasan Ika Labaya Indonesia menyatakan kesiapan penuh untuk berdiri sejajar sebagai mitra strategis Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu dalam program pengembangan pendidikan, aksi kemanusiaan, pembinaan olahraga dan kepemudaan, hingga pelestarian nilai-nilai kebudayaan lokal.
Mari kita buktikan bahwa spirit Ika Bina En Pabolo bukan sekadar peninggalan kata-kata mulia, melainkan tindakan nyata yang hidup dalam setiap jengkal kebijakan dan aksi sosial kemasyarakatan. Bersatu dalam keberagaman, bergerak dalam kebersamaan, berkolaborasi demi kemajuan tanah tercinta.
Ikhlas Berbagi, Indahnya Peduli. Bersama Membangun Labuhanbatu.
Dirgahayu ke-81 Kabupaten Labuhanbatu.
