Thomas Sukarinto Harahap Kader HMI cabang Padang, Anggota Komisariat FEBI UIN Imam Bonjol Padang.(labuhanbaturaya.com)
labuhanbaturaya.com- Tujuh puluh sembilan tahun adalah usia yang melampaui sekadar kematangan. Jika disandingkan dengan usia manusia, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah menjadi sosok sepuh yang semestinya kenyang akan kearifan (wisdom).
Namun, di tengah riuh rendah perayaan milad, pemotongan tumpeng, dan gema “Yakusa” yang memenuhi ruang-ruang seremonial, menyeruak sebuah kecemasan sunyi: Apakah kita sedang merayakan substansi, ataukah kita hanya sedang merawat nostalgia?
Hari ini, kita perlu memberanikan diri menatap cermin, bukan untuk mematut diri, melainkan untuk melihat retakan-retakan pada wajah perkaderan yang selama ini mungkin kita tutupi dengan bedak tebal bernama “kebesaran sejarah”.
Paradoks Keislaman
Ayahanda Lafran Pane menanamkan benih HMI dengan spirit keislaman yang rasional dan membebaskan. Namun, ironi terbesar hari ini adalah ketika nilai-nilai transendental itu acap kali berhenti di mimbar pidato.
Kita melihat fenomena di mana “Keislaman” dalam tubuh himpunan tampak mengalami penyempitan makna. Ia sering hadir sebagai identitas formal dalam Anggaran Dasar, namun terasa sayup dalam laku etika sehari-hari. Kita fasih mengutip dalil saat berkonsentrasi dalam forum-forum kekuasaan internal, namun terkadang gagap saat dituntut menghadirkan kesalehan sosial dan integritas publik.
Jika Islam hanya menjadi “baju” untuk memuluskan langkah politik, atau sekadar stempel legitimasi bagi gerakan yang pragmatis, maka kita perlu bertanya ulang: Masihkah HMI menjadi anak kandung umat, ataukah ia telah berubah menjadi kendaraan yang hanya ditumpangi ketika butuh?.
Kebangsaan di Ruang Hampa
Narasi kebangsaan HMI yang dahulu menggetarkan rezim, kini menghadapi tantangan kredibilitas. “Harapan Masyarakat Indonesia” adalah beban moral yang berat, bukan sekadar akronim pemanis spanduk.
Satire yang paling tajam justru hadir dari realitas di lapangan.
Kritisime mahasiswa yang seharusnya menjadi mata dan telinga bagi rakyat kerap kali tumpul ketika berhadapan dengan kenyamanan akses pada kekuasaan. Suara lantang pembelaan kadang terdengar nyaring, namun publik mulai sulit membedakan: mana suara murni nurani kerakyatan, dan mana suara negosiasi kepentingan kelompok.
Jangan sampai heroisme kebangsaan kita terjebak pada “politik proposal” dan seremoni, sementara substansi pembelaan terhadap kaum mustad’afin (mereka yang tertindas) justru terabaikan.
Kebangsaan HMI semestinya hadir di ladang-ladang penggusuran dan diskusi kebijakan publik yang bernas, bukan hanya di ruang lobi gedung pemerintahan.
Desakralisasi Hijau Hitam
Mari kita renungkan kembali atribut yang kita kenakan. Hijau dan Hitam bukan sekadar padu padan warna yang estetis.
Secara filosofis, Hijau adalah simbol keimanan, kesuburan, dan ketenangan. Hitam adalah simbol kedalaman ilmu pengetahuan yang tak bertepi. Kombinasi keduanya adalah mandat untuk melahirkan kader yang “intelek-religius”.
Namun, realitas hari ini menuntut kita untuk jujur. Warna hijau jangan sampai dimaknai sebagai “zona nyaman” kemapanan organisasi yang membuat kita enggan berinovasi. Warna hitam jangan sampai bergeser makna menjadi “kegelapan” intrik politik yang menghalalkan segala cara.
Kekhawatiran terbesar kita adalah lahirnya generasi yang bangga mengenakan gordon, namun asing dengan budaya literasi. Generasi yang lebih sibuk membangun citra di media sosial (Insan Citra) ketimbang membangun kapasitas intelektual dan pengabdian (Insan Cita). Simbol-simbol organisasi itu akan kehilangan tuahnya jika tidak dibarengi dengan kualitas pemikiran dan tindakan yang nyata.
Di usia ke-79 tahun, HMI tidak membutuhkan lebih banyak pujian yang memabukkan. HMI membutuhkan kader-kader yang berani mengakui kekurangan dan siap kembali meluruskan kiblat perjuangan.
Mari jadikan momentum ini bukan sekadar pesta ulang tahun, melainkan titik balik kesadaran. Jangan biarkan HMI menjadi raksasa yang tertidur dalam dongeng masa lalu, sementara zaman terus berlari meninggalkannya. HMI harus kembali menanam, kembali merawat nilai, dan kembali memberi makna pada setiap helai benang hijau dan hitam yang kita banggakan.
Selamat Milad ke-79.
Panjang umur perjuangan.
Yakusa.
Oleh: Thomas Sukarinto Harahap
Kader HMI cabang Padang, Anggota Komisariat FEBI UIN Imam Bonjol Padang
