Tugu Ika Bina En Pabolo, Simpang Enam Kota Rantauprapat. Foto FB: Rantauprapat
LABUHANBATURAYA.com | Oleh: Efendi Baharudin – Ketua Umum Yayasan Ikalabaya Indonesia.
Ingat STM? Bukan, ini tentu bukan Sekolah Teknik Menengah. Bagi kita yang tumbuh dan besar di Rantauprapat—atau yang akrab kita sebut Ranto, jantung Kota Kabupaten Labuhanbatu—ingatan kolektif kita pasti pernah bersentuhan dengan sebuah institusi sosial yang sangat melegenda dan lekat di hati masyarakat: STM (Serikat Tolong Menolong). Istimewanya, keanggotaan institusi kerakyatan ini mencakup seluruh lapisan warga Ranto tanpa sekat, suku, agama, maupun status sosial.
Keberadaan STM di Ranto telah mengakar jauh sejak era tahun 1960-an. Pada masa itu, setiap anggota masyarakat secara otomatis menjadi bagian di dalamnya. Gerakan sosial ini murni didasari oleh nurani dan kepedulian antarsesama. Mekanismenya sangat bersahaja namun disiplin: setiap kepala keluarga dikutip iuran rutin oleh Keplor (Kepala Lorong)—yang pada masa kini kita kenal sebagai Kepling (Kepala Lingkungan).
Nominalnya memang tidak besar, hanya berkisar Rp100 per bulan pada masanya. Namun, dari koin-koin kecil yang terkumpul itulah kekuatan solidaritas rakyat Ranto diuji dan dibuktikan secara nyata.
Dana yang terkumpul dikelola secara transparan untuk satu tujuan mulia: membantu warga yang tertimpa musibah. Paling sering, dana tersebut dimanfaatkan untuk meringankan beban keluarga yang mengalami kedukaan atau kemalangan.
Mulai dari pengurusan jenazah—dari proses memandikan, pengadaan kain kafan, hingga pengantaran ke tempat peristirahatan terakhirnya—semuanya dikerjakan secara bahu-membahu. Sejarah kecil ini membuktikan satu hal fundamental: orang Ranto sejak dulu sesungguhnya memiliki DNA tolong-menolong yang kuat, tulus, dan berakar sangat dalam.
Merawat Marwah di Perantauan
Semangat luhur dari tanah kelahiran inilah yang ternyata tidak pernah padam, sekokoh apapun jarak memisahkan. Ketika orang Ranto merantau jauh meninggalkan tanah kelahirannya demi mengadu nasib di kota-kota besar, nilai-nilai ketulusan itu tetap dibawa serta. Hari ini, marwah tersebut terus dihidupkan, dirawat, dan diaktualisasikan melalui kehadiran Ikalabaya.
Nama Ikalabaya sendiri bukan sekadar akronim atau identitas organisasi semata, melainkan manifestasi hidup dari filosofi luhur tanah leluhur kita: “Ika Bina En Pabolo”. Filosofi ini mengajarkan kita bagaimana merajut persaudaraan, membina kebersamaan, dan meneguhkan langkah dalam ikatan kekeluargaan yang kokoh.
Dalam berbagai kesempatan, jiwa korsa dan kepedulian sosial berlandaskan Ika Bina En Pabolo tersebut mewujud dalam aksi nyata. Sudah sering kita saksikan bagaimana warga Ranto yang terlantar di perantauan atau ibu kota mendapatkan uluran tangan, perlindungan, dan pertolongan pertama dari Ika Labaya, meskipun secara administratif mereka bukanlah pengurus atau anggota resmi. Bagi keluarga besar Ika Labaya, panggilan kemanusiaan selalu berada di atas segalanya.
Begitu pula ketika ada dunsanak atau saudara kita yang tertimpa musibah kesehatan dan memerlukan bantuan mendesak untuk pengobatan maupun perawatan medis, Ikalabaya senantiasa berupaya hadir untuk meringankan beban yang berat tersebut. Rantai kebaikan ini tidak berhenti di situ saja; kepedulian sosial kita terus diperluas melalui berbagai aksi nyata, termasuk penyaluran santunan rutin bagi anak-anak yatim.
Semangat kesetiakawanan sosial ini adalah marwah yang wajib terus kita rawat, wariskan, dan gelorakan dari generasi ke generasi. Ke depan, Yayasan Ika Labaya Indonesia telah merancang berbagai agenda kegiatan sosial strategis. Program-program ini dirancang khusus demi memperkuat jaring pengaman sosial dan membawa kemaslahatan yang lebih luas bagi sesama di bawah naungan semangat Ika Bina En Pabolo.
Tentu saja, sehebat apapun cetak biru dan rencana yang disusun, tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya dukungan moral, uluran tangan, dan kebersamaan dari seluruh anggota. Kekuatan sejati Ikalabaya terletak pada soliditas dan kekompakan kita bersama.
Mari terus kita jaga nyala api kepedulian ini, erat merajut silaturahmi, serta memperkuat rasa senasib sepenanggungan di mana pun kaki melangkah dan bumi dipijak.
Agenda Aksi Sosial
Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Keluarga Labuhanbatu Raya (Ika Labaya) menggandeng Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ika Labaya Sumatera Utara, dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Ika Labaya Labuhanbatu kembali menggelar Bhakti Sosial berupa pemberian santunan kepada anak yatim di Kota Rantauprapat, paling lamban pada Desember 2026 mendatang.
Sebelumnya, pada tahun 2025, telah sukses didistribusikan 100 paket santunan anak yatim dari pengurus Ika Labaya dan para donatur. Karena itu, pada tahun kedua ini, target ditingkatkan menjadi 150 paket atau lebih untuk dibagikan kepada anak yatim.
Ika Labaya mengajak seluruh pengurus, donatur, dan sahabat Ika Labaya untuk bersama-sama berbagi kebahagiaan dengan anak yatim. Satu paket dari kita mungkin sederhana, tetapi jika dilakukan bersama-sama, InsyaaAllah akan memberikan manfaat yang besar dan menjadi ladang amal bagi kita semua.
Bagi sahabat yang ingin ikut berpartisipasi, dapat menyampaikan partisipasi dan bantuannya melalui rekening donasi resmi:
Bank Mandiri: 1190004873194
Atas Nama: Azwar
Salam kompak “Ika Bina En Pabolo” dan salam kebanggaan kita “Baserak Kita Satukan”.
Editor: Bapak Hasibuan
